Thursday, 22 December 2016

CAPITAL ASSET PRICING MODEL



1.      CAPM
CAPM adalah sebuah model yang menggambarkan hubungan antara risiko dan return yang diharapkann, model ini digunakan dalam penilaian harga sekuritas. Model CAPM diperkenalkan oleh Treynor, Sharpe dan Litner. Model CAPM merupakan pengembangan teori portofolio yang  dikemukan oleh Markowitz dengan memperkenalkan istilah baru yaitu risiko sistematik (systematic risk) dan risiko spesifik/risiko tidak sistematik (spesific risk /unsystematic risk).

Model yang dikembangkan CAPM menjelaskan bahwa tingkat return yang diharapkan adalah penjumlahan dari return aset bebas risiko dan premium risiko. Premium risiko dihitung dari beta dikalikan dengan premium risiko pasar yang diharapkan. Premium risiko pasar sendiri dihitung dari tingkat return pasar yang diharapkan dikurangi dengan tingkat return aset bebas risiko.
Dalam membahas CAMP, secara implisit harus dibuat sejumlah asumsi yang diperlukan agar model ini memiliki pondasi yang kuat. Asumsi-asumsi ini meliputi asumsi-asumsi mengenai perilaku investor dan kondisi-kondisi dalam pasar modal. Asumsi-asumsi berikut dianggap memadai yang memungkinkan model yang dimaksud dibentuk:
1.             Pasar terdiri dari para investor yang bersikap menghindari risiko (risk-averse), yang mengukur risiko melalui standar deviasi dari pengembalian portofolio. Asumsi ini menyediakan basis bagi pemakai ukuran-ukuran risiko semacam beta (β).
2.             Semua investor memiliki periode waktu yang sama bagi pembuatan keputusan investasi (misalnya: sebulan, setahun, dan sebagainya). Asumsi ini memungkinkan kita untuk mengukur ekspektasi-ekspektasi investor atas interval waktu yang sama, sehingga membuat perbandingan-perbandingan memiliki arti.
3.             Semua investor diasumsikan memiliki ekspektasi yang sama menyangkut pengembalian dan risiko sekuritas di masa depan. Satu-satunya alasan yang membuat mereka memilih portofolio-portofolio yang berbeda adalah perbedaan-perbedaan dalam risiko sistematis dan dalam preferensi risiko. Tanpa asumsi ini, analisis tersebut akan menjadi lebih rumit.
4.             Pasar modal adalah sempurna dalam arti bahwa semua asset bisa dipecahkan secara sempurna, tidak ada biaya-biaya transaksi atau tingkat pajak yang berbeda-beda, dan suku bunga pinjaman dan memberi pinjaman sama satu sama lain dan sama bagi semua investor. Tanpa kondisi-kondisi ini, akan ada kendala-kendala friksional terhadap kondisi-kondisi ekuilibrium yang mendasari model ini.

Capital Asset Pricing Model mengasumsikan bahwa para investor adalah perencana pada suatu periode tunggal yang memiliki persepsi yang sama mengenai keadaan pasar dan mencari mean-variance dari portofolio yang optimal. Capital Asset Pricing Model juga mengasumsikan bahwa pasar saham yang ideal adalah pasar saham yang besar, dan para investor adalah para price-takers, tidak ada pajak maupun biaya transaksi, semua aset dapat diperdagangkan secara umum, dan para investor dapat meminjam maupun meminjamkan pada jumlah yang tidak terbatas pada tingkat suku bunga tetap yang tidak berisiko (fixed risk free rate). Dengan asumsi ini, semua investor memiliki portofolio yang risikonya identik.

Rumus CAPM dapat dihitung sebagai berikut:
 =
Keterangan:
Kj = Tingkat pengembalian yang diinginkan investor
Krf = Tingkat pengembalian bebas risiko
Krm = Return pasar
β = Beta saham

2.      Pengembalian Perusahaan
Keterangan :
CP       = Closing Price Periode Berjalan
CPt-1    = Closing Price Periode Dasar
3.      Bebas Resiko
Bebas Resiko atau biasanya didekati dengan tingkat return suku bunga bank sentral, di Indonesia umumnya risk free aset didekati dengan tingkat return suku bunga Bank Indonesia.

4.      Return Pasar
Rm didapatkan dengan meramalkan return IHSG

Keterangan :
IHSG               = Indeks Harga Saham Gabungan Periode Berjalan
IHSGt-1                = Indeks Harga Saham Gabungan Periode Dasar

6.      Resiko Beta
Beta portofolio dapat dihitung dengan cara rata-rata tertimbang (berdasarkan proporsi) dari masing-masing individual sekuritas yang membentuk portofolio sebagai berikut:
Kj = Pengembalian Perusahaan
Krf = Tingkat pengembalian bebas risiko
Krm = Return pasar

Resiko sistematik sering disebut beta (β), karena itu beta dianggap representatif untuk digunakan dalam mengukur resiko sistematik (resiko yang tidak dapat di diversifikasi), oleh sebab itu besarnya resiko suatu saham ditentukan oleh beta.
Dalam pembahasan CAPM, beta (βi) diartikan sebagai resiko saham sistematik.
β  >  1 ini menunjukkan harga saham lebih mudah berubah dibandingkan indeks pasar.
β < 1 ini menunjukkan harga saham tidak terjadinya kondisi yang mudah berubah  berdasarkan kondisi pasar.
β = 1 ini menunjukkan bahwa harga saham kondisinya sama dengan indeks pasar

Sunday, 18 December 2016

Demokrasi Diabetes

Pesta demokrasi atau pilkada yang tengah berlangsung di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya Ibukota Negara Indonesia, yaitu Jakarta membawakan berbagai kesan tersendiri yang melekat dalam benak masyarakat. Serba – serbi pilkada saat ini bertebaran dalam berbagai sudut ibukota. Dan tentunya, serba – serbi demokrasi saat ini tumbuh subur dalam benak masyarakat.
Mengingat kata demokrasi, sebenarnya apa itu demokrasi ? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, demokrasi adalah (bentuk atau sistem) pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat.
Dan kembali kepada persoalan pesta demokrasi yang saat ini sedang berlangsung, malam kemarin (15 desember 2016) telah diadakan dialog kandidat cagub dan cawagub DKI Jakarta. Dialog kandidat itu disiarkan disalah satu media televisi swasta. Namun sangat disayangkan, yang menghadiri dialog tersebut hanya pasangan nomor urut 2 dan 3, namun tidak dihadiri oleh pasangan nomor urut 1. Dan menurut salah satu media elektronik, absennya pasangan nomor urut 1 adalah karena bukan menjadi keharusan untuk menghadiri dialog yang diadakan bukan oleh KPUD.
Tidak seperti dialog – dialog sebelumnya, kali ini penulis menyaksikan dialog tersebut tidak melalui media televisi atau media lainnya, tetapi penulis mendapat kesempatan untuk menyaksikan dialog tersebut secara langsung. Dialog yang dimoderatori oleh presenter yang sudah cukup terkenal, yaitu Rosi, berjalan cukup dinamis dan interaktif.
“Perang antara gagasan dengan pengalaman” yang terjadi dalam dialog tersebutpun menyajikan berbagai celah yang patut untuk kita cermati lebih dalam. Mengingat perang ini adalah perang untuk memperebutkan kursi DKI satu demi terwujudnya kemakmuran rakyat Jakarta. Namun, tulisan ini bukanlah tulisan yang akan membahas terkait seberapa jauh kesiapan para calon tersebut untuk memimpin. Atau membahas bobot dari berjalannya dialog tersebut.
Karena penulis berada dalam atmosfer diantara kedua kubu pendukung pasangan calon, penulis mendapat kesempatan untuk mencicipi “bumbu pemanis” demokrasi yang terjadi dalam atmosfer tersebut. Terdengar berbagai hiruk pikuk serta semangat masing – masing pendukung calon demi memeriahkan salah satu “agenda” pesta demokrasi tersebut. Tak jarang, pasukan pendukung masing – masing calon meneriakkan yel – yel untuk menambah semangat serta memperpanas dinamika perjalanan perang intelektual tersebut.
Begitulah bumbu pemanis demokrasi. Menjadikan apa yang disajikan oleh dapur demokrasi menjadi suatu sajian yang memiliki cita rasa. Namun, lazimnya makanan yang memiliki cita rasa yang amat manis dikarenakan banyaknya bumbu pemanis yang digunakan, orang yang mengkonsumsinyapun dapat terkena penyakit diabetes dikarenakan kandungan rasa manis (gula) yang ada dalam sajian tersebut.
Dan inilah yang penulis lihat kala berjalannya agenda pesta demokrasi malam itu. Tak jarang, fanatisme ataupun isme – isme yang lainnya membuat para pasukan pendukung masing – masing calon mengeluarkan perkataan yang tidak seharusnya dilontarkan dalam konstelasi budaya demokrasi ini. Lebih jauh lagi, dalam bahasa gaul sekarang ini, ada pendukung yang malah “baper” dan terkesan sinis ketika pasangan yang tidak didukungnya memaparkan gagasannya.
Ada yang saling melontarkan ejekan seperti “reshuffle” (menyindir anies), ada juga yang melontarkan ejekan “penggusur” (mengejek ahok) dan banyak lainnya bumbu pemanis demokrasi yang pada akhirnya terkesan berlebihan. Bumbu pemanis yang berlebihan inilah yang bisa dikatakan menjadikan demokrasi menjadi demokrasi yang “diabetes”.
Demokrasi yang didalamnya dinodai oleh hal – hal yang tidak seharusnya berada didalamnya. Jika memang argumentasi yang keluar dalam demokrasi tersebut adalah argumentasi yang berada ada koridornya, rasanya demokrasi akan tumbuh dengan amat subur. Tapi benar adanya, kalau demokrasi kita sekarang ini sekarang tengah diciderai. Dicederai oleh bumbu pemanis demokrasi yang berlebihan.
Dan sedikit mengingat pesta demokrasi yang sekarang inipun tengah berjalan dalam kampus hijau tercinta. Pesta demokrasi awalnya berjalan cukup adem ayem, bahkan terkesan kekurangan “bumbu pemanis” demokrasi. Namun, baru – baru ini terdengar sedikit kabar yang cukup menarik dan terkesan membawa hawa yang cukup panas. Yaitu salah satu kabar yang datang dari salah satu fakultas yang identik dengan kata “kapital”. Yahhh… semoga saja demokrasi dikampus bahkan di negeri ini tidak menjadi demokrasi diabetes.

Sunday, 20 November 2016

Surabaya : Dapur Nasionalisme[1]

Oleh : Akbar Kurnianto
Tulisan ini akan membahas terkait kehidupan presiden republic Indonesia pertama, Soekarno saat Soekarno hidup di kota Surabaya. Dan salah satu hal yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kehidupan sosial soekarno pada saat itu dan seberapa besar pengaruh tempat tinggalnya saat itu terhadap pengetahuan politiknya ? Pada bab ini. Cindy Adams membahas secara kehidupan presiden pertama kala itu saat bertempat tinggal bersama H.O.S Tjokroaminoto, kehidupan sekolahnya dan juga kehidupannya kala berorganisasi.
Soekarno yang Menumpang
            Kala itu, Soekarno tinggal disurabaya, lebih tepatnya “menumpang” tinggal di kediaman H.O.S Tjokroaminoto semata – mata karena beliau ingin bersekolah di H.B.S[2]. Walaupun Tjokroaminoto merupakan kawan bapaknya Soekarno, namun hal tersebut bukan menjadi alasan bagi Soekarno untuk mendapat kemewahan disana. Disana Soekarno tinggal di kamar sempit yang tak berpintu juga tak berjendela. Namun kamar tersebut bukan menjadi kerangkeng bagi berkembangnya pemikiran Soekarno.
            Tinggalnya Soekarno dengan Tjokroaminoto membawakan anugrah tersendiri bagi Soekarno. Karena secara tidak langsung, Soekarno mendapat pembelajaran tersendiri dari Ketua Sarekat Dagang Islam kala itu. Berikut kutipan perlakuan Tjokroaminoto kepada Soekarno :
“Pak Tjokro mengajarku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa yang ia ketahui ataupun tentang apa jadiku kelak. Seorang tokoh yang mempunyai daya cipta dan cita‐cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah darahnya. Pak Tjokro adalah pujaanku. Aku muridnya. Secara sadar atau tidak sadar ia menggemblengku.”

Walaupun didikan Tjokroaminoto tidak di dominasi oleh dominan langsung, tetapi tjokroaminoto menghidupkan pikiran Soekarno menggunakan buku – buku yang diberikan kepadanya. Buku – buku yang dibacanya banyak yang merupakan karangan asing. Seperti buku karangan Thomas Jefferson, Karl Marx, Friedrich Engles, Lenin J.J Rousseau dan masih banyak lagi. Kehidupan soekarno kala itu ia habiskan untuk mebaca, berbeda dengan anak seumurannya kala itu yang dominan menghabiskan waktunya untuk bermain.
            Bukan hanya itu saja, kehidupan Soekarno pada saat tinggal di rumah Tjokroaminoto juga diwarnai dengan kesempatan beliau bertemu dengan orang – orang hebat yang dekat dengan Tjokroaminoto pada saat itu. Banyak dari pemimpin dari partai lain atau pemimpin cabang Sarekat Islam datang bertamu ke kediaman Tjokroaminoto kala itu. Dan momen itu pun tidak di sia – siakan Soekarno begitu saja, hal itu dapat terlihat dari kutipan berikut ini :
“Disaat inilah aku bertanya pelahan, "Berapa banyak yang diambil Belanda dari Indonesia?", "Anak ini sangat ingin tahu," senyum Pak Tjok, kemudian menambahkan, "De Vereenigde Oost Indische Compagnie menyedot — atau mencuri— kira kira 1800 juta gulden dari tanah kita setiap tahun untuk memberi makan Den Haag. "Apa yang tinggal di negeri kita?" kali ini aku bertanya lebih keras sedikit. "Rakyat tani kita yang mencucurkan keringat mati kelaparan dengan makanan segobang sehari," kata Alimin, yaitu orang yang memperkenalkanku kepada Marxisme. "Kita menjadi bangsa kuli dan menjadi kuli di antara bangsa‐bangsa," sela kawannya yang bernama Muso. "Sarekat Islam bekerja untuk memperbaiki keadaan dengan mengajukan mosi‐mosi kepada Pemerintah," kata Pak Tjok menerangkan dan kelihatan senang karena mempunyai murid yang begitu bersemangat.”

Soekarno dalam H.B.S
            H.B.S mempunyai 300 orang murid dan hanya 2 murid saja yang merupakan Inlanders, Soekarno salah satunya. Hal ini tentunya membuatnya dikelilingi oleh para bangsa belanda yang tentunya tidak suka dengannya.
            Bisa dibilang, perlakuan anak – anak belanda kala itu sangat buruk terhadap Soekarno. Tak jarang Soekarno pun baku hantam dengan anak – anak belanda kala itu. Dan bahkan hamper setiap hari Soekano pulang babak belur.
            Perlakuan anak – anak belanda terhadap Soekarno kala itu tidak membuat semangat mencari ilmu Soekarno kala itu menjadi surut. Dan Bahkan bisa dikatakan, Soekarno merupakan anak yang cukup berprestasi kala itu, walaupun hal itu tidak mendapat pengakuan yang cukup di mata orang Belanda. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut :
“Di tahun kedua kami disuruh menggambar kandang anjing. Sementara yang lain masih mengukur‐ukur dan menaksir‐naksir dengan potlot aku sudah selesai menggambar kandang yang lengkap, di dalamnya seekor anjing yang dirantai dan sepotong tulang. Guru perempuan kami memperlihatkan gambarku kepada seluruh kelas. Ia mengatakan, "Gambar ini begitu hidup dan penuh perasaan, karena itu patut mendapat nilai yang setinggi mungkin." Tapi apakah aku memperoleh angka yang paling tinggi itu? Tidak.”

Soekarno dengan Perkumpulannya
            Indonesia, tidak terlepas Surabaya, kala itu merupakan daerah yang dihuni oleh kaum pribuma dan kaum penjajah. Hal tersebut menjadikan terbentuknya dinding pemisah peradaban yang kasap mata kala itu. Dalam kutipan buku berikut terlihat bagaimana perbedaan kehidupan antara kaum belanda dengan kaum pribumi :
“Aku berjalan‐jalan seorang diri dan merenungkan tentang apa yang sedang berputar dalam otakku. Satu jam lamanya aku berdiri tak bergerak di atas jembatan kecil yang melintasi sungai kecil dan memandangi iring‐iringan manusia yang tak henti‐hentinya. Aku melihat rakyat tani dengan kaki ayam berjalan lesu menuju pondoknya yang buruk. Aku melihat Kolonialis Belanda duduk mencekam di atas kereta terbuka yang ditarik oleh dua ekor kuda yang mengkilat. Aku melihat keluarga orang kulit putih kelihatan bersih bersih,sedang saudara‐saudaranya yang berkulit sawo matang begitu kotor, badannya berbau, bajunya compang‐camping, anak‐anak mereka jorok‐jorok.”

            Hal ini menjadikan Soekarno menaruh prihatin yang amat besar terhadap bangsanya dan menaruh kebencian yang amat dalam terhadap kaum penjajah. Dan hal inilah yang merupakan bibit nasionalisme yang amat besar yang tertanam dalam diri Soekarno. Bibit ini terus berkembang dan menancapkan akarnya kuat kuat ke dalam hatinya dan mengembangkan ranting serta dedaunnya yang lebat dalam pikirannya.
            Pada umur 16 tahun, soekarno mulai melangkahkan kakinya dalam dunia politik. Hal itu ditandai dengan pendirian perkumpulan politiknya yang pertama, yaitu Tri Koro Darmo yang berarti “Tiga Tujuan Suci” dan melambangkan kemerdekaan politik, ekonomi dan sosial. Yang kemudian berubah nama menjadi Jong Java[3]. 
            Dan dari kegiatannya dalam perkumpulannya inilah kecintaan Soekarno terhadap tanah air makin terpupuk padatnya. Begitu juga dengan pengetahuan politiknya. Dengan masuknya Soekarno dalam keanggotaan sebuah organisasi atau perkumpulan, Soekarno pun makin dikenal oleh banyak orang. Dan hal itu menjadikan Soekarno memiliki relasi yang cukup kuat.
            Dari paparan tulisan ini, kita dapat melihat bahwa benar adanya kalau Surabaya dikatakan sebagai “Dapur Nasionalisme”. Perbedaan perlakuan yang amat jelas terlihat antara kaum pribumi dan penjajah, kehidupannya bersama petinggi bangsa dan juga kehidupannya semasa sekolah adalah racikan yang pas untuk digodoknya semangat Nasionalisme dalam diri Soekarno.



[1] Tulisan ini merupakan rangkuman serta hasil bacaan dari buku “Soekarno Penyambung Lidah Rakyat” karya Cindy Adams. Pembahasan lengkap dapat dilihat pada bab 4 di dalam buku tersebut. Tulisan ini dibuat sebagai bahan diskusi pada sekolah politik tanggal 25 oktober 2016
[2] Hogere Burger School adalah pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.
[3] TKD berubah menjadi Jong Java pada 12 Juni, 1918 dalam kongres I-nya yang diadakan di Solo, yang dimaksudkan untuk bisa merangkul para pemuda dari Sunda, Madura dan Bali.

Tuesday, 8 November 2016

Negeriku diambang Batas Kehancuran : Matinya Hati Nurani para Pemimpin



Baru – baru ini publik dihebohkan dengan adanya aksi besar – besaran umat islam untuk mendesak dipenjarakannya Basuki Tjahja Purnama atau kerap disapa Ahok. Aksi yang dihadiri oleh ratusan ribu umat islam, yang katanya juga hampir sepadan dengan aksi tahun 98. Aksi yang katanya ditunggangi oleh kepentingan politik semata. Yang pastinya, aksi yang penuh dengan pro kontra. Karna sejatinya jalan juang itu memanglah demikian terjalnya.

Tulisan ini dibuat bukan untuk mengkritik aksi yang dilakukan oleh umat islam tersebut. Ataupun dibuat untuk hanya sekedar membangun opini yang baik/buruk tentang aksi tersebut. Tapi tulisan ini dibuat kala hati ini tersentil dengan sikap presiden yang dalam menghadapi aksi tersebut malah terkesan “lari” dari rakyatnya yang sedang membutuhkan sosok sang “ayah”.

Kala itu pastinya publik sedang ramai – ramainya mengikuti “live report” tentang aksi yang diikuti oleh ulama ulama besar kala itu. Banyak pemberitaan yang berseliweran baik di media telivisi maupun media elektronik lainnya. Mulai dari aksi yang berlangsung damai, orasi – orasi yang disampaikan oleh tokoh – tokoh penting, hingga pada kerusuhan yang identic dipersembahkan oleh kaum provokator. Namun ada pemberitaan yang menggelitik atau bahkan menusuk hati ini. Yaitu kala mengetahui bapak nomor satu di Indonesia “lari” dari massa aksi yang kala itu sudah memenuhi area depan istana.

Kala itu presiden menghindar dari kejaran massa aksi dilandaskan akan pengecekan salah satu proyek. Wajar saja, menurut salah satu media berita online presiden kita ini dijuluki sebagai “presiden pertama di dunia yang mengecek detil proyeknya”. Meskipun seharusnya atas dasar alasan apapun tindakan presiden ini tidak bisa dibenarkan. Mungkin terkecuali atas dasar alasan dukacita (padahal massa aksipun sedang berdukacita akan permasalahan yang mereka hadapi).

Peristiwa absennya presiden untuk menemui rakyat yang telah susah payah mendatanginya inipun bukan hanya terjadi sekali. Sedikit membuka luka lama, kala 20 Oktober mahasiswa yang hendak bertemu sang “bapak” namun mendapat penolakan dari pihak istana. Naasnya, ternyata presiden kala itu ada di dalam Istana dan malamnya presiden melakukan pertemuan dengan beberapa kepala daerah.

Entah fenomena apa yang terjadi di negeri tercinta ku ini. Ada rakyatnya yang sedang melarat namun kekayaan alamnya terus dibawa ke dunia barat. Ada pedang kecil yang sedang berebut lapak dengan satpol PP namun ada juga kaum kapitalis yang berebut batu bara, minyak bumi bahkan proyek tanah yang mengapung diatas laut. Dan bahkan keadaan negeri ini diperparah juga dengan matinya hati nurani para pemimpin kita, tak terlepas presiden kita.

Entah sampai kapan fenomena ini terus berlanjut. Entah sampai kapan pembungkaman serta penolakan aspirasi rakyat akan berlanjut. Ini semua tak ubahnya sebuah gunung yang akan meletus. Ia meletus karena lubang kepundannya tersumbat, ia meletus karena tidak ada jalan bagi kekuatan – kekuatan yang terpendam untuk membebaskan dirinya. Sama halnya dengan kondisi bangsa kita sekarang ini. Mungkin suatu saat hal serupapun akan terjadi jika kondisi ini terus berlanjut. Dan diri inipun terus berharap dan berdoa semoga hal itu tidak terjadi.

Memang mencintai Indonesia itu sulit. Aku harus mencintai segala sesuatu yang terkandung didalamnya. Tanahnya, airnya, keberagamannya bahkan hingga luka – lukanya. Dan kini aku tersadarkan bahwa negeriku diambang batas kehancuran. Hancur karena matinya hati nurani para pemimpin.
  

Saturday, 9 April 2016

Release Activity Sospol Economic Camp 2016
Hari Jumat, 1 April 2016 adalah hari yang cukup bersejarah bagi mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Negeri Jakarta. Karena pada hari itu mahasiswa terbaik yang dimiliki bangsa ini akan menjalani rangkaian kegiatan yang sangat luar biasa, yaitu Sospol Economic Camp 2016 yang diadakan oleh Pandawa FE UNJ.

Kegiatan Sospol Economi Camp adalah kegiatan pelatihan militansi bagi mahasiswa universitas negeri Jakarta. Dalam sospol economic camp ini peserta akan mendapatkan ilmu dan pengalaman yang luar biasa tentang militansi, retorika, hingga isu – isu negeri ini yang harus kita kritisi khususnya isu – isu ekonomi.

Rangkaian kegiatan pas Sospol Economic Camp ini dimulai dari pengkondisian dan pelepasan peserta yang berlokasi di Tugu Universitas Negeri Jakarta. Pengkondisian dan pelepasan ini direncakan akan dimulai pada pukul 14.00 WIB, namun karena beberapa alasan, alhasil pengkondisian dan pelepasan ini baru bisa dilaksanakan pada pukul 16.00 WIB.

Pada saat pengkondisian ini para peserta diberitahu rute perjalanan untuk sampai di tempat kegiatan Sospol Economic Camp 2016. Dan pelepasan peserta ini dilepas oleh ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta yaitu Heri kurniawan.

Setelah pengkondisian dan pelepasan peserta, peserta pun mulai bertebaran melakukan perjalanan menuju tempat tujuan. Dan pilihan transportasi pertama para peserta adalah menggunakan metro mini dengan nomor trayek 49 menuju stasiun manggarai.

Para peserta sampai di stasiun manggarai pada pukul 18.00 WIB. Dan para peserta pun memutuskan untuk melakukan ibadah sholat maghrib dan juga mengisi perut mereka selagi menunggu antrian pembelian tiket.

Nampak antrian pembelian tiket sangat panjang sekali, mengingat para peserta membeli tiket kereta api pada saat jam pulang kerja. Yaitu waktu yang sangat padat sekali untuk melakukan perjalanan darat di ibukota tercinta, Kota Jakarta. Namun itu semua tidak menyurutkan semangat para peserta untuk mengikuti kegiatan Sospol Economi Camp 2016 ini.

Alhasil setelah menunggu lama pun para peserta telah selesai membeli tiket mereka. Namun waktu sudah menunjukkan pukul 19.15 WIB, dimana itu adalah waktu untuk pelaksanaan ibadah sholat isya. Alhasil dengan penuh pertimbangan, para pesertapun memutuskan untuk melaksanakan ibadah sholat isya terlebih dahulu.

Setelah melakukan ibadah sholat isya, para peserta akhirnya melangkahkan kaki mereka menuju transportasi berikutnya, yaitu kereta tujuan stasiun bogor. Dan nampak kereta tujuan bogor penuh sesak dengan para penumpang yang memiliki tujuan yang sama. Namun, keadaan berdesak – desakan didalam kereta itu pun tidak menyurutkan semangat para peserta untuk tetap melaksanakan kegiatan kebaikan ini.

Alhamdulilah para peserta sampai di stasiun bogor sekitar pukul 21.00 WIB . Setelah sampai stasiun bogor, para peserta melanjutkan langkah kaki mereka untuk menuju transportasi berikutnya, yaitu angkot tujuan kampung ciburial.

Karena jumlah peserta yang cukup banyak, peserta memutuskan untuk mencarter angkot menuju kampung ciburial, karena mengingat jarak dari stasiun menuju tempat tujuan cukup jauh.

Dalam proses pencarteran angkot inilah digunakan ilmu negosiasi yang telah didapatkan para peserta sebelumnya. Awalnya para peserta disuguhi harga yang cukup fantastis untuk melakukan perjalanan, yaitu 250 ribu untuk 1 angkot. Namun alhasil karena ilmu negosiasi yang diberikan sebelumnya, harga pun bisa ditekan menjadi 150 ribu untuk 1 angkot.

Singkat kata akhirnya para peserta pun tiba di kampung ciburial sekitar pukul 23.00 WIB. Tibanya peserta di kampung ciburial ini dikagetkan oleh tumbangnya (pingsan) salah satu peserta karena kelelahan. Lalu peserta pun menelpon panitia untuk menjemput peserta yang pingsan tersebut.

Dan pada saat peserta berada di kampung ciburial ini, peserta pun diberi arahan kembali oleh panitia mengenai teknis perjalanan menuju tempat kegiatan SEC 2016. Pada saat briefing ini peserta diminta untuk saling menjaga satu sama lainnya dan tetap fokus melakukan perjalanan, karena perjalanan kali ini adalah perjalanan yang sesungguhnya.

Benar saja, ini adalah perjalanan yang sesungguhnya. Medan yang ditempuh peserta bukanlah medan yang cukup mudah dilewati. Peserta harus mengeluarkan energy ekstra karena medan yang dilewati adalah medan yang sangat menanjak sekali. Belum lagi, barang bawaan peserta menambah beban yang cukup berat bagi para peserta.

Belum lama peserta melakukan perjalanan, sudah ada lagi peserta yang tumbang. Peserta yang tumbang itupun langsung diangkut panitia menggunakan kendaraan roda 2 menuju lokasi kegiatan.
Memang perjalanan yang dilalui peserta adalah perjalanan yang sungguh berat. Perjalanan menuju harapan yang di idam idamkan. Perjalanan itupun memakan waktu sampai sekitar 3 jam lamanya, alhasil para peserta pun sampai pada lokasi kegiatan pada pukul 2 pagi.

Sesampainya peserta di lokasi kegiatan SEC, peserta pun langsung dikondisikan oleh panitia. Pengkondisian ini dilakukan untuk mengecek barang bawaan yang dibawa peserta lengkap atau tidak.
Setelah melakukan pengkondisian, peserta pun langsung dipersilahkan untuk beristirahat. Istirahat merupakan salah satu hal yang ditunggu - tunggu oleh peserta, mengingat perjuangan peserta untuk sampai di lokasi kegiatan tidaklah mudah.

Pada pukul sekitar 04.00 WIB peserta dibangunkan oleh panitia untuk melaksanakan ibadaha sholat tahajud disambung dengan ibadah sholat subuh. Waktu yang cukup songkat bagi para peserta untuk beristirahat di tengah dinginnya cuaca cikoneng yang menusuk sampai tulang. Namun, sekali lagi itu tidak menyurutkan semangat para peserta unuk melanjutkan kegiatan SEC 2016 ini.

Pagi harinya, sekitar pukul 06.00 WIB para peserta dikondisikan lagi oleh panitia. Pengkondisian ini bertujuan untuk mengevaluasi perjalanan peserta pada malam kemarin.

Karena keterlambatan peserta, yang seharusnya peserta sampai lokasi kegiatan, cikoneng pada pukul 23.00 WIB, namun peserta sampai sekitat pukul 02.00 WIB, peserta pun mendapat punishment. Punishment itu berupa latihan fisik dan kehiatan bakti sosial yang sudah disepakati kedua belah pihak dengan melalui waktu negosiasi yang cukup alot.

Setelah pengkondisian itupun, panitia sudah mempersiapkan sarapam pagi bagi peserta. Dan peserta langsung dipersilahkan menyantap sarapan pagi yang telah disiapkan itu. Yaitu sarapan berupa beberapa lembar roti dengan secangkir teh hangat.

Setelah sarapan pun, peserta langsung disuguhkan oleh pemaparan materi kegiatan. Pemaparan materi ini dimoderatori oleh Akbar Kurnianto. Dan akbar memoderatori materi kegiatan tentang materi kegiatan yang dibawakan oleh ka Dwiky Pranata selaku Komandan Pandawa FE UNJ.

Tampak pada materi kepandawaan ini, para peserta dibawa mengikuti alur berdirinya Pandwa FE UNJ sampai sekarang ini. Dan tampak bahwa Tim pergerakan Pandawa ini memiliki sejarah yang cukup menakjubkan dan penuh makna terkandung didalamnya.

Setelah materi kepandawaan selesai, peserta langsung disuguhkan oleh materi yang sungguh bermanfaat kembali. Materi selanjutnya, yaitu tentang kegiatan sosial dimoderatori oleh faris. Dan materi ini dibawakan oleh ka Azis selaku Staff Departemen Advokasi BEM UNJ.

Walaupun peserta sangat letih karena perjalanan yang sungguh berat kemarin dan walaupun wajah para peserta terlihat terkantuk - kantuk akibat kurangnya istirahat, para peserta masih cukup antusias menjalani materi ini. Dan satu hal yang dapat dipetik dari materi ini, yaitu seorang yang baik pun punua masa lalu dan seorang yang jahat pun punya masa depan.

Setelah itupun peserta dipersilahkan untuk ishoma. Dan disinipun para peserta disuguhkan kebersamaan pada waktu makan. Kebersamaan ini tercipta karena tempat makan para peserta merupakan nampan yang dimana dalam satu nampan tersebut 4 – 6 peserta makan bersama.

Setelah ishoma selesaipun, langsung saja kegiatan dilanjutkan ke agenda selanjutnya, yaitu materi ke 3 tentang manajemen aksi. Materi ini dibawakan oleh ka Randy selaku mantan komandan Pandawa.

Pada materi ini para peserta dipaparkan secara kompleks bagaimana menjalankan suatu aksi. Mulai dari persiapan hingga pasca aksi itu dilakukan. Dan setelah pemaparan materi, langsung ada simulasi aksi yang disusun oleh para peserta.

Setelah itupun peserta dipersilahkan untuk melaksanakan ibadah sholat ashar. Yang selanjutnya dilanjutkan dengan persiapan persembahan kepada para panitia. Persembahan ini bertujuan untuk mengapresiasi kinerja para panitia yang telah berjuang melaksanakan kegiatan Sospol Economic Camp 2016 ini.

Dalam persembahan kali ini, para peserta menyuguhkan aksi teatrikal tentang carut marutnya pemerintah Indonesia saat ini. Banyak rakyat yang tertinda, namun pemerintah hanya duduk menikmati uang hasil dari keringat rakyat. Namun satu hal yang pasti, bahwa pemuda (mahasiswa) tidak akan pernah berhenti bergerak.

Setelah persembahan ini selesai, peserta pun langsung dipersilahkan untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib yang akan dilanjut tilawah hingga pelaksanaan ibadah sholat isya. Setelah ibadah sholat isya selesai, peserta pun kembali dihidangkan makanan oleh para panitia demi menjaga kondisi para peserta tetap optimal.

Setelah itupun panitia langsung disuguhkan oleh materi ke 4, yaitu tentang Retorika dan Mahasiswa. Materi ini dibawakan oleh ka daus selaku Komandan Green Force. Pada pemaparan materi ini tampak semangat yang diberikan oleh ka daus sangatlah luar biasa. Dan itupun menjadi pemantik semangat bagi para peserta bahwa kita masih harus tetap bergerak.

Setelah materi selesai, tibalah hal yang paling ditunggu – tunggu oleh para peserta, yaitu istirahat. Mengingat bahwa perjalanan yang telah dilakukan peserta cukuplah luar biasa, tak herannya para peserta langsung tertidur lelap di tengah – tengah udara dingin yang menggigit.

Sekitar pukul 02.00 WIB para peserta pun dibangunkan oleh panitia. Rasa penasaran dengn penuh tanda Tanya pun menghantui para peserta yang bingung kenapa mereka dibangunkan. Ternyata para peserta dibangunkan untuk melaksanakan sholat tahajud.

Setelah pelaksanaan sholat tahajud selesai, peserta digiring untuk keluar aula masjid. Disana peserta diberi arahan untuk melakukan perjalanan yang penuh dengan tanda Tanya. Para peserta pun dibagi kedalam beberapa kelompok.

Setelah melakukan briefing, barulah para peserta dipersilahkan melakukan perjalanan yang mereka tidak tahu kemana arah perjalanan itu. Ternyata perjalanan itu adalah perjalanan menuju pos – pos yang telah disiapkan panitia untuk mengaplikasikan materi yang telah diberikan oleh pemateri sebelum – sebelumnya.

Setelah itu semua selesai, para peserta pun langsung dipersilhakan untuk melaksanakan ibadah solat subuh. Setelah ibadah sholat subuh selesai, para peserta pun digiring menuju lapangan dekat masjid.
Disitu para peserta diarahkan untuk melakukan simulasi menjadi border. Dalam simulasi ini tampak keseruan para peserta selagi menjadi border. Esensinya adalah, walaupun mendapat tekanan, hantaman, bahkan pukul dari berbagai arah, kita harus tetap berpegangan erat demi membentuk barisan yang kuat.

Setelah selesai, para peserta pun duduk melingkar sambil menyantap sarapan yang diberikan oleh panitia. Lalu setelah itu, dilaksanakanlah momen yang cukup mendebarkan. Yaitu diskusi calon komandan Sospol Economic Camp.

Dalam diskusi ini terpilihlah tiga calon yang akan meneruskan kepemimpinan dalam tim aksi pandawa ini. Yaitu kak shafwan, kaka lvi dan kak dito. Diskusi pun berjalan cukup menegangkan dan alot.

Setelah diskusi selesai, para peserta pun digiring kembali menuju masjid untuk melaksanakan ishoma. Setelah ishoma selesai, barulah peserta bersiap – siap untuk melaksanakan perjalanan pulang.
Sebelum pulang, ada acara yang benar – benar mendebarkan. Yaitu pengumuman komandan terpilih Pandawa FE UNJ. Dan alhamdulilah komandan Pandawa yang terpilih adalah ka shafwan dari manajemen 2014. Sungguh amanah yang luar biasa yang diberikan kepada ka shafwan. Dan ini merupakan jalan perjuangan yang telah digariskan oleh Allah SWT kepada umatnya.

Dan tak lupa diadakan pengumuman apresiasi panitia kepada peserta. Yaitu pengumuman peserta terbaik, kelompok terbaik dan karya terbaik. Peserta terbaik putra jatuh kepada Akbar Kurnianto dari akuntansi 2015. Peserta terbaik putri jatuh kepada Syafia Ismi Pratiwi dari akuntansi 2015. Kelompok terbaik jatuh kepada kelompok 1 yang difasilitatori oleh kak Shafwan. Dan karya terbaik jatuh kepada Gibran dari pendidikan ekonomi 2015.

Dan alhamdulilah telah selesai lah kegiatan Sospol Economic Camp 2016 ini. Merupakan suatu perjalanan perjuangan yang luar biasa. Dan diharapkan kedepannya, para peserta dapat menjadi penggerak perubahan bangsa ini untuk menjadikan Indonesia yang gandrung akan keadilan.



TTd.
Peserta SEC 2016
Akbar Kurnianto